Kereta Api Natal Sebarkan Pesan Toleransi di Pakistan


Ilustrasi. Seorang petugas berjaga di depan sebuah gerbong kereta Natal. (Foto: newvision.co.ug)

Sebuah rangkaian kereta api bertema Natal pada Kamis (22/12) berangkat mengelilingi sejumlah kota di Pakistan dalam upaya untuk mempromosikan toleransi di negara yang mayoritas Muslim tersebut.

Seperti diberitakan newvision.co.ug, hari Kamis (22/12), gerbong dalam rangkaian kereta api tersebut dihiasi lampu Natal dan tiruan manusia salju, yang menggambarkan momen penting yang dirayakan umat Kristiani tersebut.

Menurut keterangan resmi, dengan kehadiran kereta tersebut pemerintah berharap mengubah pola pikir di Pakistan, karena di negara tersebut sering terjadi serangan dan penganiayaan terhadap penganut agama minoritas.

“Ini adalah sebuah lambang dari toleransi, semua orang akan merayakan Natal bersama-sama," kata Menteri Hak Asasi Manusia Pakistan, Kamran Michael mengatakan kepada AFP dan dikutip kembali newvision.co.ug hari Kamis (22/16).

Michael menambahkan masyarakat diperkenankan naik kereta tersebut. 

Penganut Kristiani di Pakistan diperkirakan berjumlah 1,6 persen dari 200 juta orang Pakistan. Umat Kristiani telah lama menghadapi diskriminasi sehingga banyak dari mereka yang tidak mendapat pekerjaan, atau dibayar dengan rendah dan menjadi sasaran tuduhan penghujatan yang dibuat-buat.

Kereta tersebut berangkat hari Kamis (22/12) dari Islamabad ke Peshawar, ibu kota provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang terletak di barat laut, dan akan melakukan perjalanan ke Lahore pada hari Natal (25/12), sebelum berangkat ke Karachi selatan pada tanggal 1 Januari.

Diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas agama adalah hal yang lumrah di Pakistan, di negara tersebut jumlah populasi Muslim lebih dari 90 persen. 

Seperti yang pernah terjadi saat perayaan Paskah pada bulan Maret lalu yaitu sebuah serangan bom di sebuah taman di Lahore yang menewaskan 73 orang. Kala itu, kelompok pemberontak Taliban Pakistan mengklaim serangan tersebut, selain itu mereka menargetkan orang Kristen.

Serangan bunuh diri terhadap sejumlah gereja di Lahore juga terjadi tahun lalu. Kala itu serangan tersebut menewaskan 17 orang. Kemudian serangan tersebut memicu dua hari kerusuhan dan mengakibatkan ribuan umat Kristen meninggal dunia.

Agnes, seorang Pakistan Katolik yang menghadiri upacara peluncuran, berterima kasih atas sikap pemerintah. Dia mengakui walau hal tersebut adalah sesuatù yang simbolik. “Ini tidak lebih dari sebuah simbolik, tetapi membuat saya merasa bangga, itu adalah langkah pertama,” kata dia.

“Mari berharap kami bisa merayakan Natal dengan damai dan harmonis pada masa mendatang,” kata dia. (newvision.co.ug)

sumber : satuharapan.com
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

0 komentar:

Post a Comment